Hari Keberuntungan: Transport Gratis dan Bertemu Meerkat! (seri Aus-3)

Hari itu adalah hari ke-3 kami di Melbourne. Rencana awalnya kami ingin melihat Pinguin dan Koala di Phillip Island. Tapi harus kami urungkan karena waktunya tidak memungkinkan. Untuk ke Phillip Island kira – kira perlu sehari penuh. Dan supaya tidak terburu – buru, sepertinya lebih nyaman kalau pakai menginap. Berhubung planning kami yang terlalu mendadak dan saat itu pun musim libur, maka agak sulit untuk mencari akomodasi. Jadilah diurungkan, diganti dengan acara yang serupa tapi tak sama.

Setelah dipikir – pikir, kalau cuman mau ketemu sama hewan – hewan Australia kenapa nggak ke bonbin aja? Gak usah jauh – jauh, gak usah pake nginap, tentunya lebih murah. Jadilah kami ke Melbourne Zoo.

Setelah sarapan, cabut ke stasiun seberang hotel dengan maksud membeli 1-day ticket. Lokasi Melbourne Zoo diluar jalur trem gratisan, sih. Sampai di depan mesin penjual tiket, kami disambut oleh berita gembira. Hari ini semua publik transport dalam kota Melbourne gratis! Yay! Kenapa gratis? Hari itu adalah tgl 25 Desember.  Lumayanlah, bisa menghemat AUD 6.8 per orang hari itu.

Pengumuman Tiket Gretong

Langsung kami menuju ke trem stop. Trem no. 55 yang kami tunggu.  Dari William Street ke Zoo. Sambil menunggu, ada 2 orang  pria dengan penampilan rada berantakan datang menghampiri. Mereka minta duit buat beli rokok, “Just 5 bucks…”. Sepertinya begitulah gaya ngemis di sana. Cukup  bisa ditolak dengan kata “sorry, gak punya duit kecil”.

Di Dalam Trem

Akhirnya trem yang ditunggu datang. Menurut primbon per-trem an sih trem yang kami naiki adalah jurusan bonbin. Tapi berhenti di mananya ya?  Tiba – tiba kami mendengar ada seorang ibu – ibu, yang tampaknya turis, menanyakan ke penumpang lain dimana dia harus berhenti kalo mau ke zoo. Wow! hebat sekali ibu itu, bisa membaca pikiran orang! Jadilah kami tinggal ngikut aja di mana ibu itu turun. Dan ternyata banyak orang yang turun di sana. Zoo Trem Stop.

Melbourne Zoo punya 2 gerbang masuk. Gerbang utamanya di jalan Elliot Avenue, gerbang lainnya di sisi belakang dekat dengan trem dan train stop. Karena kami naik trem, kami masuk dari gerbang belakang. Naik train bisa juga, katanya sih keretanya dari Flinder St. Station. Setelah membayar tiket masuk seharga AUD 24.80, masuklah kami ke bonbin. Cukup ramai. Ada yang sudah menggelar tikar di rerumputan, ada yang mendorong – dorong kereta bayi, dan ada juga yang baru datang seperti kami. Kirain pagi masih sepi.

Baru datang, udah nyasar ke kandang macan. Hauumm… Persis kayak suara macan di tipi – tipi. Kandangnya besar, dibuat seperti suasana hutan. Biar macannya nyaman. Macannya tampak gemuk dan terawat. Mungkin cocok hawa dan susunya. Dari kandang macan, kami melihat peta mencari target hewan berikutnya.

Target utama kami ke zoo adalah melihat hewan – hewan khas Australia seperti Koala, Kangguru, Wombat, dan Pinguin. Sambil mencari nama – nama hewan tersebut di peta zoo, kami menemukan sebuah nama hewan yang sering kami lihat di tipi acara flora dan fauna nya Planet Animal, yaitu: Meerkat! Meerkat ada juga yah, di Australia? Kirain cuman ada di Afrika. Cihuyy… akhirnya ketemu Meerkat. Binatang berkaki 4 yang sukanya berdiri – berdiri dengan kaki belakangnya. Ternyata Meerkat ukurannya kecil, seukuran Tupai. Gerakannya lincah, dan memang suka berdiri sambil noleh kiri – kanan dengan cepat. Gak usah jauh – jauh ke Afrika deh buat ketemu Meerkat. Benar – benar hari yang hemat.

Meerkat

Setelah dari tempat si Meerkat, kami ke rumah akang guru. Kebetulan si akang lagi gak ngajar. Tuh, mejanya aja kosong. hehe…

Kangguru

Dari kandang ke kandang, akhirnya sampai juga ke kandang Koala. Koalanya lagi nongkrong di atas ranting pohon sambil makan daun eucalyptus. Baunya mirip minyak kayu putih. Pantesan aja mereka gak masuk angin di hawa aussie yang suka dingin begitu. Sayang sekali kami terlambat tiba di kandang Koala. Sepertinya baru saja ada sesi Meet The Keeper -nya Koala. Kalo gak terlambat kayaknya bisa ngelus – ngelus Koala, deh. Kayak di tipi – tipi.

Koala Nangkring

Abis itu ke tempat Pinguin. Sekomplek sama kolam Seal, Singa apa Anjing laut yak? Pinguin yang di situ jenis Pinguin kecil. Bukan yang gede kayak di filem Happy Feet. Tapi pinguinnya malu – malu, sembunyi mulu di sarangnya.

Pinguin Malu - Malu

O iya, di sana banyak hewan yang suka sembunyi di sarang atau di antara pepohonan dalam kandang. Perlu ketelitian untuk menemukan mereka. Suka ngira kandangnya kosong, eh.. setelah diperhatikan hewannya ternyata nyempil di pojokan.

Buntut sama Paw Siapa ya?

Harimau, Macan, Gajah, Orang Utan dan sebangsanya merupakan koleksi utama di situ selain hewan khas Australia. Kompleks kandang Orang Utan sangat besar, mengakomodasi berbagai jenis primata seperti Orang Utan,  Monyet, Kera, Gorilla, Simpanze,  dan kawan – kawan sebangsa dan senegaranya. Kompleks Gajah juga besar. Tentu saja, lha wong badannya seekor udah besar. Di tengah hutan kompleks gajah, kami menemukan warung yang bernuansa sangat akrab ke-Indonesiaan. Rupanya gara – gara si Gajah asalnya dari Indonesia, dibikinin pula warung Indonesia supaya gajahnya merasa di rumah sendiri.

Warung Gajah

Anak dan adik Gajah

Lama berkeliling, lapar juga rasanya. Tak terasa dari masuk sekitar jam 10 pagi, sudah sampai jam 1 siang aja. Waktunya nyam – nyam. Di dalam ada food court. Kami beli fish and chips saja. Habis makan, melanjutkan sedikit keliling zoo, lalu keluar.

Binatang Terkaya - Ber-uang

Zebra Cross Nyebrang

Hari masih siang menjelang sore. Masih bisa dipakai untuk jalan – jalan di kota. Tapi hari itu target melihat Australian Bush Buddies sudah tercapai. Plus bonus ketemu Meerkat.

Menyusuri Pantai Selatan (seri Aus – 2)

Hari itu berencana pergi ke luar kota. Menyusuri pantai selatan benua ini. Jalur pantai selatan yang legendaris: Great Ocean Road. Jalan ini adalah jalur pantai selatan yang sangat panjang, membentang dari kota Torquay sampai dengan Portland sepanjang 356 km. Kota – kota di sepanjang jalur ini adalah: Anglesea, Aireys Inlet, Lorne, Apollo Bay, Port Campbell, Warnambool, dan Port Fairy. Kami berencana hanya sampai di Lorne saja,karena tidak berencana menginap. Takut pulang kemalaman kehabisan angkutan.

Dari pagi sudah siap – siap. Mandi dan sarapan. Sarapannya mi instan bawa dari rumah. Sudah bawa kompor buat travel, tapi gak jadi dipakai gara – gara setelah dicolokin, agak lama jadi berasap. Akhirnya masak air pake ketel yang disediakan di kamar hotel. Jadilah mi instan seduh. Dimakan pakai abon sapi. Enak juga.

Dari Melbourne kami naik kereta regionalnya V/Line dari Southern Cross Station ke kota Geelong. Stasiunnya yang Geelong Station, bukan yang north ataupun south. V/Line ini adalah operator transportasi milik negara bagian Victoria. Selain menjalankan kereta, dia juga punya bus. Tiket kereta ke Geelong harganya AUD 6.4 searah perorang off-peak season. Off-peak season adalah waktu libur dan weekend. Desember 24 terhitung sebagai waktu libur.  Setelah beli tiket, lihat papan pengumuman jadwal kereta dan platformnya. Dan… tut tut tut, naik kereta api. Eh, kayaknya gak pake api.

Papan petunjuk Jadwal dan Platform

Perjalanan ke Geelong memakan waktu sekitar 1 jam. Pemandangan kanan kiri sebagian besar adalah padang rumput, perladangan, persawahan dan peternakan. Memang negara agraris. Pantas saja mereka sangat protektif terhadap sumber daya mereka. Sangat menyenangkan melihat ladang – ladang yang subur, sapi – sapi yang gemuk dan sehat. Tapi lama – lama bosan juga karena pemandangan yang monoton, akhirnya mengantuk dan ketiduran. Tidur – tidur ayam.

Sesekali kereta berhenti di stasiun – stasiun kecil. Terkadang stasiunnya tampak ditengah padang ilalang. Sepi. Gitu ya ternyata desanya orang bule. Biar sepi tetep aja dijangkau fasilitas transportasi.

Sampai di Geelong sekitar pukul 10 pagi. Menurut informasi, dari stasiun Geelong ada bus – bus yang pergi ke Great Ocean Road. Diantaranya bus milik V/Line dan McHarry. Kebetulan waktu sampai ada bus V/Line yang sudah boarding mau berangkat. Berlari – larilah kami ke arah bus. Sampai di pintu bus, kondekturnya nanya karcis. Kami belum beli. Disuruh beli di loket V/Line stasiun. Kami beli tiket sampai kota Lorne (bacanya: lorn). Harga tiketnya AUD 8.4 searah per orang. Kami beli searah saja. Jadwal keberangkatan bus bisa dilihat di website V/Line. Search aja.

V/Line Bus ke Great Ocean Road

Perjalanan bus ini menarik. Bisa melihat pemandangan kota – kota kecil yang dilalui. Sesekali melalui barisan semak – semak yang di dekatnya ada rambu – rambu bergambar kangguru. Awas kangguru nyebrang! Sangat ngarep ngeliat Kangguru nyebrang ataupun Koala nangkring di pepohonan. Tapi sayangnya, gak nemu blas!

Bagian awal perjalanan bus menyuguhkan pemandangan kota kecil dan jalanannya. Belum terlihat pemandangan pantai selatan yang dijanjikan. Jelas saja, Great Ocean Road awalnya dari Torquay. Dan Geelong – Torquay itu memang bukan jalur tepi laut. Setelah sekitar 30 menit, barulah tampak tanda – tanda pantai itu. Sesekali tampak sekelibat pemandangan laut, tapi masih tertutup pepohonan dan rumah – rumah. Torquay lewat.

Mengintip pantai dari jalan berliku

Di Anglesea sudah mulai banyak orang yang turun membawa papan selancar. Tepian pantai sudah mulai sering terlihat. Tapi masih belum intensif pemandangan pantainya. Anglesea juga konon tempat favorit orang berselancar. Lepas Anglesea perjalanan mulai menarik. Jalanan mulai berliku – liku dengan tebing di kanan dan jurang di kiri. Jangan takut, jalanannya luas dan bagus. Supirnya pun terlatih, sepertinya. Tebingnya berpohon – pohon, jurangnya pun bersemak – semak. Sepertinya banyak jenis pohon eukaliptus. Makin jauh semakin jelas bahwa jalanan ini terletak di tebing – tebing selatan benua ini. Pemandangan laut lepas dan pantai makin terlihat jelas. Beautiful!

Pemandangan Pantai Laut Selatan

Pemandangan laut lepas yang biru dan pantai sesekali tampak berombak. Karena bus ber AC, jadi tidak bisa merasakan hembusan angin lautnya. Sepertinya pengen buka kaca jendela saja. Jalan terus berliku – liku, mengiringi liku – liku lekuk selatan benua ini. Lautnya jadi tampak berteluk – teluk. Tak terasa perjalanan sudah 1.5 jam. Sudah mencapai Lorne. Turun, deh :(

Tiba di Lorne

Di Lorne ada beberapa tempat perhentian. Kami turun di dekat Tourist Information Center. Sempat masuk untuk ke toilet dan mengambil beberapa brosur. Hawanya adem biarpun terang bermatahari. Dari situ kami menyusuri jalan ke arah pantai. Pantainya terlihat dari tepi jalan.  Pantainya bersih, biru, bening. Keren! Untuk ke pantai kami melalui lapangan rumput dan tempat bermain anak – anak. Ramai suasananya. Ada ortu yang bermain – main dengan anaknya, lempar – lemparan friesbies dengan doggy-nya, dan ada pula yang sekedar berjemur sambil membaca. Tentu saja, di pantainya ada yang berenang – renang dan berselancar. Cuaca yang bagus untuk ke pantai. Tapi ada yang aneh. Kami  ke pantai kok jaketan? Lha wong pantainya pake AC. Ya baru di sini ini ke pantai pakai jaket. Anginnya nggebes adem kayak AC. Brrrr…

Suasana di Pantai Lorne

Makan siang di restoran seberang jalan. Di seberang pantai berjajar restoran dan kafe. Nggak nemu yang bertuliskan ‘Halal’, meskipun nggak ada yang tulisannya ‘Haram’ juga. Akhirnya milih restoran burger dan pizza, pesen menu pizza vegetarian. Harganya ukuran medium kalo gak salah AUD 12. Gak habis buat berdua, dibawa pulang sisanya.

Habis makan siang jalan ke pantai sebentar. Duduk – duduk menikmati semilir angin. Setelah itu memutuskan pulang sekitar jam 2 siang. Kebetulan lagi ada bus McHarry lagi ngetem mau berangkat. Naik deh kite. McHarry konon trayeknya dari Geelong hanya sampai Lorne. Kalau mau sampai ke Apollo Bay mesti naik V/Line. Kali ini beli tiket dari supirnya langsung. Harganya sama.

Stasiun Geelong

Perjalanan balik terasa lebih cepat. Tau – tau sudah sampai stasiun Geelong. Langsung beli tiket untuk kereta ke Melbourne berikutnya. Sampai di Melbourne masih sore. Masih sempat jalan – jalan di kota. Rencananya pengen ke Queen Victoria Market. Tapi apa mau di kata, sesampainya di sana pasarnya udah tutup. Parahnya, tutup untuk beberapa hari ke depan sampai tanggal 29 Desember 2010. Ya sudahlah, besok – besok saja. Yang penting hari ini puas bisa melihat pantai selatan.

Pendaratan Darurat di Negeri Kangguru (seri Aus – 1)

Suasana kabin pesawat saat itu sangat membosankan. Rasanya baru kali ini naik pesawat jarak jauh, 8 jam, tanpa fasilitas apa – apa. Nggak dapat makan, minum, selimut, apalagi in-flight entertainment. Ya, perjalanan kali itu adalah dari Kuala Lumpur (KL) ke Melbourne naik AirasiaX. Ya gitu deh… namanya juga budget airline, ya budget lah apa – apanya. Kalo mau nambah fasilitas ya nambah ongkos, neng! Gak opo – opo wes, sing penting murah – meriah, slamet! Kalau mau lebih murah lagi, beli saja jauh – jauh bulan. Kalau bisa 4 bulan lebih sebelumnya. Harganya bisa sekitar RM 1500 pp.

Sebenarnya nggak masalah tanpa fasilitas – fasilitas tambahan naik pesawat jarak jauh. Apalagi perjalanan malam. Justru cocok jadi waktu tidur. Gak perlu diganggu sodoran makanan ataupun godaan film – film box office. Yang jadi masalah adalah kalo gak bisa tidur. Waktu 8 jam bukan waktu yang singkat untuk dilalui tanpa aktifitas. Namanya juga orang naik pesawat, kalo bengong, pikiran suka aneh – aneh. Guncangan turbulence dikit udah bisa bikin stress! Saat gak bisa tidur itulah rasanya in-flight entertainment jadi barang yang die – die must have one! Airasia juga punya, bentuknya berupa layar lepasan seperti iPad tebal. Kalo gak, bawa saja buku bacaan. Kalau mau baca – baca Qur’an tentu lebih baik :)

Pesawat berlepas jam 10.30 malam, 22 Des 2010. Rencananya sampai jam 9.20 pagi waktu setempat. Sekitar tengah malam, terdapat pengumuman dari kokpit menanyakan adakah yang berprofesi dokter atau paramedis. Agak terjadi sedikit kehebohan. Sedikit saja, sebab kebanyakan penumpang sedang lelap tertidur. Hasil nguping samar, katanya ada seorang penumpang yang terkena serangan jantung. Tempat duduknya beda 4 baris saja dari kami. Seorang ibu tua. Setelah seorang dokter mendatangi ibu itu, keadaan pun terkendali.

Tak lama kemudian sinar matahari mulai tampak masuk ke dalam kabin. Hari mulai pagi. Terlebih lagi arah pesawat menyongsong datangnya matahari. Terdengar pengumuman dari kokpit lagi bahwa pesawat akan didaratkan darurat. Mendarat di kota Alice Spring. Sudah mencapai tengah benua rupanya. Pesawat mendarat mulus. Pesawat transit, sedangkan penumpang tetap di pesawat. Kemudian naiklah petugas paramedis dari kota setempat dengan membawa peralatan untuk mengevakuasi pasien. Tak tau kenapa, rasanya prosesnya lama dan ribet. Petugas mondar – mandir dengan  suara HT yang bersahut – sahutan. Kursi roda dinaikkan, tandu sekalian, eh.. ujung – ujungnya pasiennya dituntun jalan pelan – pelan. Sigh! Keluarga pasien sekaligus diturunkan di kota itu. Lamaaa sekali rasanya transit kali itu. Pilot tak segera memberangkatkan pesawat dan tidak ada kepastian sampai berapa lama lagi. Membosankan? Sudah jelas. Kelaparan? Tentu, karena jam sarapan pagi sudah lewat, tapi tidak bawa makanan. Akhirnya, yang ditunggu – tunggu tiba, pramugari membagi – bagikan makanan.

Cheese and crackers or brownies for you, Mam?”
Brownies, please

Yay! Pilihan yang tepat, brownies coklat yang mantap! Coklatnya, coklat bangettt. Cocok buat orang kelaparan kronis. Kenyang, dan pesawat pun take off.

Alice Spring ke Melbourne sekitar 2 jam. Sampai di Melbourne sekitar pukul 1 siang. Beres imigrasi ke tempat pemeriksaan custom. Terdapat formulir deklarasi custom yang harus diisi. Custom Australia terkenal ketat memeriksa barang bawaan. Terutama flora dan fauna, serta produk – produk nabati dan hewani untuk melindungi hasil bumi mereka. Daripada ketangkap, mendingan men-declare dengan jujur. Waktu itu petugas sempat memeriksa abon dan cereal bubuk yang kami bawa. Tapi untungnya diluluskan.

Bandara Tullamarine Melbourne. Begitulah bunyinya. Kakinya bertanduk, hewan apa namanya. Keluar bandara, disambut udara sejuk adem. Bandara ini letaknya agak di luar kota. Ke tengah kota ada shuttle bus yang namanya SkyBus. Tak perlu menunggu lama, ada setiap 10 menit, beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Bisa mengantar pulang dan pergi sampai dan dari hotel. Di kota Melbourne, pangkalannya di Southern Cross Station (SCS). Jadi satu sama stasiun kereta. Tiketnya 1 way AUD 16, pp AUD 26. Tiketnya bisa dibeli di loket di bandara ataupun di bus stop. Perjalanan dari Tullamarine ke SCS sekitar 30 menit.

Bangunan SCS megah. Bagian basement-nya terminal bus, tengahnya stasiun kereta antar kota antar propinsi, atasnya stasiun kereta ke sub-urban Melbourne. SCS ini semacam stasiun sentral di negara – negara Eropa, Hauptbahnhoff (HBf) di Jerman, Swiss, atau KL Sentral, stasiun di mana semua kereta berpusat dan terintegrasi dengan terminal bus, dan pangkalan taksi. Di seberang SCS pun terdapat trem stop dari beberapa jalur. O iya, jika tiba di bandara Melbourne, jangan lupa mengambil brosur tentang kota Melbourne. Gratis. Di dalamnya ada keterangan tentang jalur – jalur transport.

Southern Cross Station Train Platforms

Tiba di SCS dengan kelaparan. Efek mantebnya brownies sudah hilang. Cari makanan, alhamdulillah ketemu yang halal. Kebab! Seporsi AUD 9. Beli 1 buat berdua. Dari awal sudah curiga kalo porsinya pasti besar, seperti porsi – porsi makanan bule pada umumnya. Dan ternyata benar, 1 kebab berdua bikin kenyang. Yang cukup mengharukan, di SCS juga ada musholla nya. Prayer Room, begitulah bunyinya, di papan petunjuk.

Papan Petunjuk di Stasiun

Hotel kami namanya Hotel Enterprize, letaknya di sisi seberang SCS. Cukup 5 menit jalan kaki dari SCS. Kami booking 3 malam seharga total AUD 277, untuk jenis kamar Executive Double room. Dapat deal yang cukup bagus, untuk kamar yang bagus dan luas. Bisa booking langsung melalui website nya di sini, tapi bila book lebih dari 1 malam bisa lebih murah di sini. Hotel ini bagus, tapi tergantung jenis kamar yang apa. Review saya tentang hotel ini bisa dibaca di sini.

Ahh.. akhirnya sampai juga kami di hotel. Bisa sedikit melepas lelah, mandi, sholat dan leyeh – leyeh. Tapi tak lama, karena membaca info tentang trem gratis yang hanya beroperasi sampai jam 6 sore. Ya, di kota ini ada servis trem gratis yang bernama City Circle line. Keretanya berwarna coklat tua bertuliskan “City Circle” (CC). Kebetulan hotel kami dekat dengan trem stop-nya CC. Pukul 4, kami bergegas keluar hotel. Tak mau rugi melewatkan kesempatan keliling kota gratis di hari itu. Jalurnya mengelilingi pusat kota Melbourne, melewati tempat – tempat penting di kota itu. Cocoklah.

City Circle Trem

Sore itu kami ikuti saja CC, naik sampai kembali ke tempat yang sama lagi. Sekedar ingin tahu, seperti apa sih kota ini.  Kemudian mencari tempat makan malam. Daftar sekaligus peta tempat makan yang halal  dan masjid/musholla bisa dijumpai di sini.

Sore itu kami pergi ke Federation Square, tempat nongkrongnya orang Melbourne. Tertarik untuk mengunjungi tempat ini karena ramainya. Tempat ini berupa pelataran yang luas dikelilingi oleh beberapa bar dan restoran, serta sebuah layar lebar. Anggaplah layar tancap elektronik.

Federation Square

Terburu – buru kami mengejar trem. Takut kehabisan trem. Ternyata nasib sedang  baik. Ada pengumuman dari ruang supir trem bahwa hari itu sampai 3 hari kedepan trem beroperasi sampai jam 9 malam. Rejeki!

Jalan – jalan kami lanjutkan. Tapi tak begitu berguna, karena ternyata kota ini tidur cepat. Toko – toko sudah banyak yang tutup sekitar jam 6 sore. Yang masih buka hanyalah restoran dan bar. Gak asik! Masuk ke mall, hanya untuk menyaksikan prosesi tutup toko – toko. Sebelum pulang ke hotel menyempatkan makan malam di Es Teler 77, Swanston St. Hari masih baru gelap ketika kami pulang ke hotel. Maklumlah, kalau summer magrib baru jam 8.30 malam.

Federation Wharf

Berada di negara yang tidur cepat adalah hal yang tidak biasa bagi kami. Sebenarnya negara – negara di Eropa pun tidurnya cepat. Kami  hanya tidak terbiasa dengan tempat yang tidurnya cepat, karena jam 10 malam, toko – toko di Singapura baru pada tutup. Ya, baiklah, sepertinya disuruh tidur tepat waktu selama berada di sini. Jadi, sampai ketemu besok!

 

Menikmati Beningnya Laut Tioman

Bagi anda pecinta pantai dan ingin mencari pantai yang indah di Malaysia, anda bisa mengunjungi Pulau Tioman. Pulau ini terletak di sisi timur Semenanjung Malaka. Tidak begitu jauh dari Singapore / Johor. Tioman dapat dicapai dengan Ferry yang berangkat dari kota Mersing. Kota Mersing berjarak sekitar 3-4 jam dari Johor Bahru.

Kami mengunjungi pulau ini pada sebuah long weekend di bulan April 2009. Kami berangkat dari Singapore kesiangan, sehingga terjebak macet di Imigrasi Woodland dan Johor Bahru selama total 4 jam. Berangkat dari rumah jam 10 pagi, lolos imigrasi jam 2 siang. Fiuhh… hari yang menyenangkan.

Selepas Imigrasi, kami makan siang dan sholat dulu di City Square, sebuah mall yang terhubung dengan Imigrasi Johor Bahru, Sultan Iskandar CIQ Complex. Dari situ kami ke Terminal Bus Larkin. Bus dari City Square ke Larkin bisa dicegat di 2 jalan yang mengapit City Square: Jalan Wong Ah Fook dan Jalan Tun Abdul Razak. Waktu itu kami naik bus dari Jalan Tun Abdul Razak. Jalan ini diapit oleh bangunan Imigrasi dan City Square. Tinggal cari saja bus yang bertuliskan ‘Larkin’, ongkosnya RM 1.7.

Bus langsung dari Larkin ke Mersing, frekuensinya tidak sering. Pagi pukul 8.30 dan siang pukul 2.30. Berhubung kami ketinggalan bus 2.30, kami harus mencari jalan lain, yaitu lewat Kota Tinggi. Dari Kota Tinggi, bus ke Mersing lebih sering. Dari Larkin ke Kota Tinggi sekitar 1 jam, naik bus Maju 227. Sebenarnya, menurut WikiTravel, bus ini juga bisa dicegat di Jalan Wong Ah Fook seberang City Square. Ongkosnya RM 4.80.

Dari Larkin cukup sore, kalau tidak salah sudah pukul 4 sore. Berharap sampai di Kota Tinggi sebelum pukul 7, karena jam segitu bus ke Mersing sudah akan habis. Berhubung ketika itu sedang musim hujan, perjalanan bus agak terhambat oleh banjir. Ya, jalanan agak macet. Sampai di Kota Tinggi pun sekitar jam 6. Terminal bus Kota Tinggi sangat sederhana. Platform bus nya hanya berupa pinggiran trotoar yang bertanda. Di sekitarnya terdapat warung – warung. Tapi jangan berharap menemukan money changer di terminal, harus pergi keluar terminal agak jauh untuk menemukannya.

Karena macet, bus ke Mersing datang hampir pukul 8 malam. OmniBus namanya. Perjalanan ke Mersing sekitar 2 jam. Bagian awal perjalanan datar dan lurus, tapi mendekati Mersing jalanan jadi berliku – liku. Sampai di Mersing sudah sangat malam, sekitar jam 10. Jelas saja kami ketinggalan ferry.

Sesampainya di Terminal Bus Mersing kami mencari tempat penginapan. Kami tidak punya reservasi hotel apapun di Mersing. Hotel pertama yang kami datangi penuh, dan kami melanjutkan mencari hotel di hampir tengah malam itu. Akhirnya, ada hotel yang masih punya kamar kosong, namanya Hotel Embassy. Lokasinya masih dekat dengan terminal. Kami menyewa 1 kamar seharga RM 60. Dari luar penampilan hotelnya tidak mewah. Sangat biasa, tapi kamarnya cukup luas dan bersih, terdapat 1 queen bed dan 1 single bed. Kamar mandinya juga lumayan. Akhirnya bisa tidur juga kami malam itu.

Keesokan paginya kami check out awal. Berharap mengejar ferry terpagi ke Tioman. Kami sarapan pagi ke sebuah pasar yang ada food courtnya, masih di dekat terminal. Kami naik taksi ke Pelabuhan Ferry Mersing. Cukup murah, tapi lupa berapa, sepertinya tidak sampai RM10. Lha wong ternyata pelabuhannya itu sangat dekat dengan pelabuhan. Bisa jalan kaki, mungkin 15 menitan. Sampai di pelabuhan, kami mencari tiket. Di sana banyak calo yang menawarkan tiket, hotel dan paket2 wisata. Ya, kami memang belum punya reservasi hotel di Tioman. Tapi yang kami cari lebih dahulu adalah tiket ferry. Ferry terpagi sudah berangkat, pukul 7.30.  Berikutnya jam 10. Katanya ferry beroperasi dari 7.30 sampai jam 6 sore, dengan interval tiap 2 – 3 jam sekali, tergantung cuaca dan ombak. Harga tiket 1 way RM 35. Kalau bisa beli return, soalnya sering penuh. Waktu itu saja, dari yang rencananya kami ingin balik keesokan sore, kami kehabisan tiket. Akhirnya harus ambil ferry paling pagi dari Tioman, sekitar pukul 7. Gak asik.

Sambil menunggu ferry, calo – calo itu pantang menyerah untuk menawari kami hotel. Akhirnya, ada salah satu calo juga yang berhasil. Pakai jurus kolusi sesama orang Indonesia, sih. Dia menawarkan hotel, tapi kami tawar harganya. Elo berhasil, kite juga dong! Akhirnya dia berjanji untuk mempertemukan kami dengan pemilik hotelnya langsung kalau mau menawar. Waktu itu kami ditawari RM 120, untuk sebuah pondok ber AC dan kamar mandi. Ah, mahal sekali! Alasannya musim libur. Kami tawar RM 90. Kan kami cuma berdua ini, kan kamarnya buat bertiga. Akhirnya dapet deh.

Oh iya, di Tioman, tempat yang kami tuju adalah Kampung Salang. Kampung ini terletak di bagian utara Tioman. Perhentian paling akhir ferry, di ujung paling utara. Menurut info2 yang kami baca, semakin ke utara, semakin bagus pantainya. Selain itu, kami ke Salang juga karena ingin ke Pulau Tulai (Coral Island) yang lebih dekat dicapai dari Salang. Coba lihat foto – foto nya di sini, wuih.. menggiurkan bukan?

Perjalanan ferry dari Mersing ke Salang memakan waktu sekitar 2-3 jam.  Salang adalah perhentian terakhir sebelum akhirnya balik ke kampung-kampung yang tadi sudah disinggahi. Benar saja, ketika sampai kami disambut oleh jernihnya warna laut Tioman. Bening biru kehijauan. Seperti kolam renang yang luas. Airnya tak berbau amis seperti di kebanyakan pantai.  Ferry berhenti di tepi dermaga yang berupa jembatan panjang yang menjulur dari tepi pantai. Sampai sana sudah siang, pukul 1.

Kampung salang tidak besar. Jalan – jalan di sana pun hanya setapak. Ya paling selebar 1 meter. Ke mana – mana cukup berjalan kaki. Ketika sampai ternyata kami sudah dijemput, diantarkan ke penginapan. Penginapan kami namanya Salang Indah Inn. Wujudnya sekamar berupa pondok – pondok. Lokasinya tidak begitu strategis, agak jauh dari tepi pantai, tidak bisa memandang laut lepas langsung. Kalau malam ternyata sepi dan agak gelap. Cocok buat yang lagi honeymoon. Penampilan kamarnya lumayanlah. Ada 1 bed besar, dan 1 bed kecil. Kamar mandi di dalam dan ber AC. Kamar mandinya tidak begitu bagus di sana. Pokoknya fungsional :D

Cari – cari info ke P. Tulai, ternyata trip ke P. Tulai sudah berangkat jam 10 pagi. Kecewa. Akhirnya, kami makan siang saja. Di sana ada beberapa restoran. Kami mencari yang punya view ke laut lepas. Di siang yang sepoi – sepoi, minum segelas es yang dingin sambil memandang laut lepas. Setelah makan, kami ke pantai. Untungnya cuaca siang itu cukup bersahabat, meskipun paginya ketika di ferry turun hujan. Tak mau rugi melewatkan cuaca yang lagi cerah, kami bermain – main di pantai. Benar – benar seperti foto – foto yang sering kami lihat tentang Tioman. Pantainya bersih, airnya bening sampai ikan – ikan terlihat berenang – renang di dekat kaki. Pantainya panjang dan terlihat lengang. Di agak ke tengah ada turis – turis yang berenang dan snorkeling.

Di sana ada pondok – pondok yang lokasinya lebih dekat ke pantai, dengan view laut. Waktu malam tiba, suasana menjadi cukup meriah. Ada restoran / cafe yang bikin live music. Kami makan malam di dekat penginapan yang cukup happening, namanya Salang Indah Resort. Di resort itu ada supermarketnya, warnet, dan restoran. Huh, kalo tau sebelumnya, tentu saja kami ingin booking di tempat itu saja. Tempat kami kalau malam terlalu sepi, krik.. krik.. krik. O iya, siap – siap banyak nyamuk. Di kamar disediakan kelambu anti nyamuk sih.

Pagi – pagi kami sudah harus siap pulang. Di pagi hari air laut tampak surut. Garis pantai mundur ke arah laut. Untuk sarapan kami beli roti tawar dan selai di supermarket Salang, karena pagi belum ada warung buka. Jetty pertama kami naiki. Perjalanan agak terhambat di Kampung Tekek, entah kenapa. Tapi seperti ada hiruk pikuk karena ferry nya kebanyakan orang. Petugasnya sibuk mengecek tiket, sepertinya ada tiket berganda.

Sampai di Mersing masih pagi. Nyari bus langsung ke Larkin, kehabisan. Lagi – lagi deh… Akhirnya naik bus OmniBus ke Kota Tinggi lagi. Lalu nyambung ke Larkin. Kali itu imigrasi JB ke arah Singapur sangat lancar. Dan memang, kami belum pernah kena macet di Imigrasi dari arah JB ke Sgp. Total perjalanan ke Tioman menghabiskan sekitar SGD 220, untuk 2 orang, 3 hari 2 malam, sudah termasuk segala transport, penginapan, makan, beberapa suvenir, cemilan, cepuluh dan cebelas :D  Kalau pergi berombongan tentunya bisa lebih hemat lagi, karena ada penginapan yang 1 kamar bisa beramai – ramai.

Gara – gara kurang persiapan, liburan ke Tioman jadi kurang optimal. Kesalahannya karena kurang pagi dan tidak punya reservasi hotel dan ferry. Kalau niat harus berangkat pagi – pagi sekali dari Sgp. Kalau perlu menginap saja di JB, hotel Tune kan murah, tuh. Kejar bus paling pagi dari Larkin yang langsung ke Mersing.  Sepertinya tiketnya RM 10-12. Kalau bus langsung dari Singapore, ada juga, tapi konon harganya lebih mahal 3 kali lipat. Bisa dicoba kalau mau menghemat waktu. Sekalian saja beli tiket ferry dari Sgp, kalau bisa. Kalau di Larkin, belilah tiket langsung dari counternya. Jangan beli sama calo – calo. Takutnya nanti di mark-up, atau bisa – bisa tiketnya palsu.

Kalau anda punya long weekend dari Jumat sampai Minggu, ada plan  yang sangat optimal untuk diikuti. Simak detilnya di sini. Selamat bersantai di pantai!

LCCT, Bandara Budget yang Eksklusif

Untuk kelas budget terminal, LCCT KL ini bisa diacungi jempol. Jempol tangan dan kaki kalo perlu. Dibandingkan Budget Terminal-nya Singapore aja, LCCT masih lebih keren. Jangan kan Singapore, airport biasa di kota kecilnya Australia aja lewatttt… *permisi bosss* Eh, ini beneran, lho!

Saking seringnya naik pesawat budget via KL, saya jadi makin hafal sama LCCT. Kalau aja ada ujian, kayaknya saya bisa dapat 100! Kalo bener semua 1000 sih, hehe…

Di bagian utama bandara, dekat keberangkatan dan kedatangan, lebih banyak di jumpai restoran/cafe yg menjual makanan cepat saji. Ada pula yang menjual makanan bernasi, tapi tampaknya kelas harganya mahal. Kalau mau nyari makanan yang lebih murah, pergilah ke bagian ujung bandara, ke arah tempat pemberangkatan bus dari LCCT ke KL Sentral. Tempat makan itu berupa food court, yang bernama Food Garden. Udah murah, ber-AC, buka 24 jam, ber wifi dan colokan listrik pula!  Jenis makanannya adalah makanan Melayu/Padang, Chicken Rice, Aneka Mi, dan adapula KFC. Kalau tidak terlalu lapar, ada pula stall minum yang juga menjual buah, roti, cake, dan pau.  Harga makanan mulai dari RM 5. Di  gedung Food Garden ada musholla dan toilet yang banyak, bersih dan tidak ngantri. Tempat yg cocok untuk nongkrong sambil menunggu waktu keberangkatan pesawat.

Untuk check-in, jangan tergoda oleh antrian check-in yang panjang. Antrian panjang memang sangat menggoda untuk diikuti, terutama bagi anda yang sering ngantri saat ada shopping sale. Cari saja mesin self check-in yang bertebaran di hall check-in. Anehnya, mesin – mesin ini sering sepi. Padahal self check in prosedurnya sangat mudah dan cepat. Tinggal ikuti instruksi di layar mesin. Setelah dapat boarding pass, tinggal ke counter baggage drop. Oh iya, ini untuk Airasia. Untuk maskapai lain,  saya lupa ada atau tidak. Kalau anda bisa web check-in dari rumah, itu lebih bagus lagi. Datang di bandara tinggal drop baggage. Menghemat waktu dan energi anda. Untuk apa? Untuk bengong. Jika merasa bengong di LCCT, anda bisa melewatkan waktu dengan browsing. Jaringan wifi dapat dijumpai hampir di seluruh bangunan bandara.

LCCT bisa ditempuh dengan bus atau kendaraan beroda lainnya. Belum ada jalur kereta yang mampir ke tempat ini. Dari KL Sentral, ada beberapa bus diantaranya: AeroBus dan SkyBus. SkyBus ini sepertinya milik Airasia. Kita bisa membeli tiket SkyBus sekaligus ketika membeli tiket Airasia online. Cara ini lebih murah dibandingkan beli terpisah. Dengan beli sekaligus, harga tiket SkyBus jadi RM7 oneway. Sedangkan jika beli di tempat, oneway RM 9. SkyBus berangkat dari KL Sentral setiap 30 menit dari jam 3 pagi. Jadwalnya ada di sini. Kalau mau beli tiket di tempat dari KL Sentral, yang lebih murah adalah AeroBus, RM8 sekali jalan, RM 14 pp. Juga berangkat setiap 30 menit, dengan waktu tempuh rata – rata 1 jam.  Jadwalnya ada di sini. Kalau SkyBus rata – rata 1 jam 15 menit.

Jika anda mengejar pesawat pada waktu – waktu peak hours, terutama jam – jam orang pulang kantor, antisipasi perpanjangan waktu tempuh. Maklum, agak macet. Alokasikan waktu perjalanan bus selama 2 jam.

Selain bus dari KL Sentral, sepertinya ada pula bus – bus langsung dari Pudu Raya ke LCCT. Belum pernah naik, tapi saya pernah liat tulisannya di bus. Dahulu ada bus dari Terminal Bus Bukit Jalil, tapi sekarang trayeknya telah berhenti. Jadi, kalau dari Terminal Bukit Jalil, jalur ke LCCT yang biasa kami tempuh adalah: Bukit Jalil – Bus RapidKL ke Pudu Raya – Taxi ke KL Sentral (RM15) – bus ke LCCT. Agak ribet. Tapi so far so good.

 

nge-Bus Singapura – Kuala Lumpur

Ngebis. Cara ini adalah yang paling tradisional, sebelum maraknya budget airline. Aneka ragam bus bisa dipilih dari Singapura ke KL. Dari yang merek A sampe Z, dari kelas eksekutif sampai kelas super VIP++. Bisa dilihat di sini.
Sejauh ini sih baru pernah naik yang kelas eksekutif biasa aja. Belom pernah naik yang super VIP++ pake TV. Fasilitas standar bus – bus ini adalah AC, formasi tempat duduk 2 (kanan) – 1 (kiri), dengan kerapatan ruang kaki yang berbeda – beda. Fasilitas lainnya tergantung harga dan nasib. Ada yang harga tiket sama, dapat air mineral 1 botol, dan ruang kaki lebih lega. Namun tentu saja, yang kelas super VIP punya fasilitas lebih, diantaranya personal TV di tiap tempat duduknya. Bahkan ada yang punya ruang karaoke. Kalau ada yang pake kolam renang, pengen nyoba deh :) Kan keren kalo bisa bilang, “Gue brenang lho dari Singapur ke KL!”

Perjalanan Sgp – KL lamanya antara 5 – 6 jam. Tergantung macet atau tidak jalanannya dan/atau imigrasi, juga pakai berhenti makan atau tidak. Setahu saya keberangkatan bis dari Sgp paling malam jam 10. Kalau mau lebih malam lagi, bisa coba berangkat dari Johor Bahru terminal Larkin. Sepertinya masih bisa dapat bis ke KL jam 12 malam. Tapi konon kabarnya, JB kondisinya agak rawan terutama di malam hari. Selain itu, harga bis dari JB ke KL harganya lebih murah dibandingkan kalau beli tiket dari Singapura dan dalam RM. Harga tiket Larkin – KL berkisar RM 20 – 25. Lebih murah dibandingkan dari Sgp, yg paling murah SGD 25. Cuma, kalau mau berangkat dari JB harus menyiapkan mental untuk antrian panjang di imigrasi Woodlands, terutama kalau hari libur. Pernah, di imigrasi aja 4 jam!

Bus dari Sgp ke KL untungnya selalu berangkat via Tuas check point. Antrian di Tuas tidak selama di Woodlands.  O iya, jangan lupa ingat2 plat nomor bus kita sebab plat nomor bus itu akan dipampangkan di layar petunjuk tempat kita naik lagi dari platform yang mana. Kalau lagi gak rame sih gak apa – apa, bis kita bisa jadi bis satu – satunya yang parkir di platform. Tapi kalo lagi rame, seperti waktu CNY lalu, wah… sempat panik takut ketinggalan bus gara – gara gak tahu plat nomer bus sendiri. Untunglah setelah meronda keliling platform2 bis nya ketemu. Fiuhh… Sedangkan kalau balik dari KL, masuk via Woodlands. Kalau ketinggalan bis di Woodlands bisa naik bus (SMRT 950, SBS 170, Causeway Link) atau taksi. Oh ya, saya pernah sekali tertinggal bis di Woodlands. Untungnya jam 10 malam masih ada bis ke kota.

Eniwei baswei, diantara bus eksekutif yang pernah saya tumpangi adalah Sri Maju, Transnasional. Sri Maju bisnya enak, tempat duduknya besar,  meskipun tak sebesar daun kelor. Reclining  seat yang cukup miring, dan ruang kakinya lega. Harganya pun tidak terlalu mahal. Tiketnya bisa dibeli di Golden Mile Complex atau online. Pernah naik bis ini ke KL pada akhir Des 2010, berangkat siang jam 12. Tiketnya beli di Golden Mile Complex, seharga SGD 25, dari agen bis 707. Mungkin waktu itu bis 707 digabung Sri Maju karena off-peak season. Dapet 1 botol air mineral. Beli tiket online ternyata lebih murah, cuma SGD 23. Pernah beli online untuk berangkat dari KL ke Sgp, CNY Feb 2011 lalu.

Bus Transnasional juga pernah. Menurut saya Sri Maju lebih enak. Tempat duduknya Transnasional gak selebar di Sri Maju, dan ruang kakinya lebih sempit. Daannn… jangan sekali2 memilih duduk di kursi paling belakang (nomor kursi belasan, seperti no. 11, 12) karena gak bisa recline dan sangat terasa getaran mesinnya. Bis ini konon adalah bus pemerintah My. Harga tiketnya stabil, tidak naik ataupun turun dikala musim libur. Menguntungkan kalau liburan CNY, tapi tidak menguntungkan kalo lagi normal, karena normalnya lebih mahal sedikit. Tiket bisa dibeli online di sini. Itinerary tiket online harus ditukar dengan tiket asli sebelum keberangkatan. Biar gak dapat tempat duduk paling belakang, tukernya jangan terlalu mepet. Dari Singapura, bis ini berangkat dari Terminal Bis Lavender, dekat Hamilton Rd. Di sini juga tempat menukar tiket.

Jika berangkat malam dari Singapura, bersiaplah untuk sampai terlalu pagi di KL. Apalagi kalau masih gelap sekitar jam 4 pagi. Saya pernah sampai di KL (Terminal Sementara Bukit Jalil) jam 4 pagi. Angkutan umum masih belum beroperasi. Naik taksi males karena belum tahu harga pasaran ke KL Sentral yang cukup jauh itu. Males ditipu :D Akhirnya nunggu sampai jam 6, jam beroperasinya LRT, MRT, dan bus kota.

Dari Terminal Bukit Jalil ada bis  kota RapidKL ke Pudu Raya RM 2.  Kalau mau ke KL Sentral, bisa nyambung taksi dari Pudu, pasarannya RM 15. Bus RapidKL ini naiknya dari dalam terminal Bukit Jalil, tapi kalau pagi jam 6 belum masuk terminal. Kita harus nunggu di pintu masuk terminal di pinggir jalan raya. Dan… bus pertama, yang ngantri  berjubel. Sampai akhirnya saya urung naik, dan ganti naik kreta. Kalau naik kreta ke KL Sentral, jalurnya: LRT Bukit Jalil ke Bandar Tasik Selatan, RM 70 sen, trus nyambung KTM ke KL Sentral, RM 1. Ini per Feb 2011 lalu. Stasiun LRT Bukit Jalil letaknya di sisi seberang terminal, ke arah menyeberangi sungai. Sekitar 10 menit jalan kaki lah dari terminal.

Jadi, kalau anda tidak dikejar waktu, naik bus Sgp – KL pilihan yang oke. Cukup nyaman, tidak terlalu mahal, bisa bawa bagasi banyak tanpa takut overload, cuma ribetnya pas naik turunin barang di imigrasi. So, jom cuti – cuti naik bus!

Wow, Terminal Bis Rasa Airport!

Liburan CNY 2011 yang lalu saya sempat ngicipi terminal bis baru-nya Kuala Lumpur, Terminal Bersepadu Selatan  (TBS) di Bandar Tasik Selatan. Resmi dibuka 1 Januari 2011, namun baru 9 operator bis yang beroperasi di situ sampai CNY kemarin, sisanya masih di terminal sementara Bukit Jalil. Terminal ini untuk bis – bis yang mengarah ke selatan KL.

Terminal bis ini sangat megah, 5 lantai, ruang tunggu penumpangnya full-AC, bergaya gate – gate seperti di airport. Terdapat konter check-in untuk tempat menukar tiket dengan boarding pass, dan jadwal keberangkatan bis terpampang pada layar – layar LCD. Keren! Sampai – sampai tidak merasa kalau ini adalah sebuah terminal bis. Serasa berada di airport!

TBS ini bisa diakses dengan kereta, karena letaknya sangat dekat dengan Stasiun Kereta Bandar Tasik Selatan. Terdapat sebuah jembatan panjang yang menghubungkan keduanya. Dari KL Sentral, terdapat KTM  yang menuju ke Bandar Tasik Selatan. Waktu tempuh KTM dari KL Sentral ke Bandar Tasik Selatan adalah sekitar 20 menit, RM 1. Murah. Tapi kalau  mau naik KTM waktu tempuh harus diperhitungkan, jangan terlalu mepet karena frekuensi KTM agak jarang. Seperti pengalaman kami kemarin. Sudah PD mau naik KTM ke TBS, namun terlalu berprasangka baik terhadap waktu tempuh. Kurang 40 menit dari waktu keberangkatan bis, kami baru mau naik KTM. KTM tak kunjung datang dan waktu terus berjalan. Akhirnya kami keluar dari gate untuk mencari taksi. Untungnya taksi dari KL Sentral ke TBS tidak terlalu mahal, RM 20. Padahal jaraknya jauh. Rasanya salah perhitungan. Setelah membeli kupon taksi di konternya, kami segera menghampiri taksi. Untungnya dapat sopir yang pengertian dan baik hati. Kami pun bilang bahwa kami sedang buru – buru mengejar bis, dan pak sopir itu pun melajukan taksinya dengan kecepatan tinggi.  Ternyata, buat pak sopir, kami adalah penumpang pertamanya ke TBS. Mestinya kami mendapatkan sebuah piring cantik. Akan tetapi, karena saat itu adalah pengalaman pertamanya nyopir ke TBS, pak supir sempat kebingungan mencari jalan masuk ke terminal itu. Mungkin karena terminalnya masih baru, jadi tanda – tanda penunjuk jalan pun belum lengkap dipasang. Untungnya kami tidak terlambat. Sampai di sana 5 menit sebelum jadwal keberangkatan, dan ternyata bisnya pun terlambat.

Kami naik bis Sri Maju, yang tiketnya kami beli online melalui Easibook. Sesampainya di TBS, kami menuju sebuah konter check-in untuk menukar tiket dengan boarding pass. Setelah itu, kami mencari platform tempat keberangkatan bis melalui layar LCD. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya bis datang jam 10.30 malem, 30 menit terlambat dari jadwal.

Sri Maju bisnya enak. Kursinya besar, reclining, dan ruang kakinya lega. Formasi 2 – 1 seperti kebanyakan bis Singapore – KL. Tidak terasa sekitar jam 3 pagi sudah sampai di Woodlands, padahal pakai acara turun minum di sebuah restoran entah berapa lama. Dari Woodlands kami tidak ikut bis sampai ke Golden Mile, melainkan naik taksi. Taksi dari Woodlands ke Bukit Panjang di malam hari wiken ternyata cuma sekitar SGD 13.
Sekarang naik bis dari KL lebih nyaman lah pokoknya.